Mengenai Saya

WA: 082124760048

Senin, 13 Mei 2013

Anak Babon Blorok



Babon blorok sempat saya kawinkan dengan 3 pejantan berbeda. Saya pikir nantinya akan cukup mudah membedakan anakannya karena 3 pejantan ini punya ciri-ciri yang berbeda, ternyata lumayan susah juga untuk memastikan masing-masing anakan. Pejantan yang kawin dengan babon blorok adalah Jago-2,  jago ciker milik kakak (ciri birmanya kental, brewokan), dan jago kelabu (setetasan dengan jago hitam yang mati diadu). Dengan 3 pejantan ini menetas 9 telor , mati 2, ada 2 jantan sisanya betina. Jantan 1 kakinya kuning, kaki ciker: kemungkinan besar anak pacek ciker. Jantan 2 kakinya hijau, tulang kasar: kemungkinan besar anak jago-2. Ada 1 betina berwarna kelabu: kemungkinan besar anak jago kelabu. Sisanya berwarna hitam, ada yang agak brewok.
Sebenarnya ada 1 betina hitam, betina kelabu dan anak jantan kaki hijau saya prioritaskan untuk dipelihara lebih intensif, namun apadaya nasib menentukan lain. Saat betina hitam dan kelabu terserang sakit, yang hitam tidak sanggup bertahan sedang yang betina ternyata bisa sehat lagi. Tapi betina kelabu tiba-tiba saja kakinya patah di pangkal atas paha, terpaksa pindah kandang di panci. Jantan kaki hijau tidak bisa bertahan saat kena penyakit, hanya beberapa menit setelah saya suapi makan dan saya keluarkan dari kandang tiba-tiba saja kelojotan terus mati, waduuuhh….
Jantan muda kaki ciker kini sudah berumur 6 bulan, badannya lumayan, tinggi sedang, panjang, tapi sayapnya bogang. Kalau hanya untuk pelatih sih kayaknya masih bisa, tunggu sajalah nanti sampai saatnya dia dewasa. Tiga betina yang lain tumbuh sehat sampai saat ini dan ke depannya mungkin akan jadi selir bagi jago wido.

Jantan ciker

3 ekor betina anak blorok + jantan gratisan

Senin, 01 April 2013

Babon cucu Kasus



Untuk mendekatkan kembali gen kasus maka saya memelihara 2 betina cucu kasus. Silsilah pastinya saya kurang ingat betul, namun tampilannya malah seperti babon Bangkok padahal teman saya A sangat yakin babon 2 betina ini punya darah mayoritas ayam Saigon/Vietnam. Y a begitulah misteri breeding, kadang ciri-ciri dominan pacek dan induk turun seluruhnya ke anak, kadang ciri dominan sama sekali tidak terlihat ke anak namun justru ciri kakek/neneknya keluar dominan. Hal-hal seperti inilah yang membuat saya, dan pasti banyak breeder lainnya, semakin penasaran dengan breeding yang dilakukan. Teman saya A menyatakan keheranannya saat melihat 2 betina ini, pertama yang saya sebut diatas tadi tampilannya seperti babon Bangkok, yang kedua pertumbuhan yang berbeda dengan saudara setetasan yang lain. Si A ini memelihara 1 jantan setetasan di rumahnya, jantan muda ini tubuhnya masih lebih kecil daripada 2 betina tersebut. Bahkan dengan jantan muda ciker milik saya pun masih lebih besar si ciker, padahal umurnya lebih tua jantan mudanya si A. Dari kejadian ini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa pakan memang sangat besar pengaruhnya bagi pertumbuhan, apalagi saat ayam masih muda, kita juga harus bisa mensiasati pemberian pakan sehingga si anak ayam dapat tumbuh maksimal.
Saat ini 2 betina tersebut berumur sekitar 6 bulan, sebentar lagi sudah masuk usia bertelor padahal kandang untuk mereka masih belum siap. Sebenarnya bukan mau melihat anakannya tapi sayang saja kalau telurnya cuma masuk penggorengan, mending anaknya saja nanti yang masuk pengorengan atau dijual sebagai pedaging. Dari pengalaman breeder senior banyak yang membuktikan bahwa jago dari induk /pacek yang masih terlalu muda kualitasnya masih kurang baik. Maka 2 betina ini belum akan saya ambil anakannya sebelum periode bertelor yang ketiga, atau minimal 2 betina ini berumur 10 bulan baru akan saya ambil anakannya. Yang jelas 2 betina ini pada saatnya nanti akan dikawinkan dengan Olan.


Babon cucu Kasus yang nangkring dan yang disebelah kiri.

update: 
salah satu dari babon cucu kasus ternyata sudah mulai bertelor, tadi pagi (4 /5/2013) dikurungan mereka ada sebutir telor

Welcome my baby…



Kurang lebih 1,5 bulan yang lalu jago-1 dan babon blorok pindah rumah ke kebun, satu kandang cuma berdua, bulan madu terus pokoknya… he..he..he…. Syukurlah babon blorok mau bertelur di tempat yang disediakan, telornya aman tidak ada yang dipatuki. Sampai selesai periode bertelor ada 7 butir, tinggal sisanya saja tuh karena sudah beberapa kali bertelor saat masih di kandang yang di rumah. Namun apalah daya kita berusaha namun tetap saja Yang Kuasa yang menentukan, dari 7 telor tadi ternyata hilang satu per satu hingga hanya tersisa 3 butir saja, entah tikus, entah naluri si babon, entahlah, saya juga tidak tahu kejadiannya, tahu-tahu waktu si blorok turun makan cuma  ada 3 telor di sarangnya. Gak apa…. Masih dikasih rejeki juga kan….
Setelah menunggu 3 minggu tibalah saat yang ditunggu, hari Sabtu tanggal 30 Maret  kemarin  telor-telor si blorok sudah menetas. Sebenarnya 3 butir menetas semua tapi hanya 2 ekor yang berlindung di balik badan si blorok, 1 ekor sudah tergeletak tidak bernyawa didepan tempat eraman, syukurlah masih dikasih rejeki 2 ekor, daannnnnnn…….. inilah bayi-bayi kecil itu…..




Si blorok sudah pindah kurungan, dan si gundul sekarang menemani Jo-Son, semoga gundul mau bertelor sampai mengeram, we’ll see…


update:
si kecil yang kepalanya warna putih hanya berumur 1 hari jadi korban tikus,  semoga saudaranya bisa bertahan sampai dewasa.


Update (26/04/2013):
Jenis Vietnam yang saya punya hanya babon gundul dan jo-son, mereka saudara satu tetasan. Agar mendapatkan gen yang lebih menyatu lagi saya coba inbreed mereka. Karena periode bertelur yang sebelumnya selalu dihabiskan olehnya sendiri maka sekarang saya coba pindah si gundul ke kurungan yang ada di kebun. Harapan saya di sana tempatnya lebih lapang dan sesekali bisa saya lepas agar bisa makan daun-daunan. Selain itu juga saya mencoba menerapkan tips dari peternak yang lebih senior agar meletakkan bola pingpong di tempat eraman. Tujuannya agar si babon mematuki bola pingpong yang disangkanya telur sampai dia jenuh sendiri. Alhamdulillah… bisa berhasil, ada lima butir telur di tempat eraman sampai hari ini. Semoga berjalan lancar sampai mengeram dan menetas.

Jumat, 22 Maret 2013

Lebih Dekat (4): OLAN



Masih ingat di artikel awal si anak inbreed? 
Memang inilah anak babon blorok dengan bapaknya (Kasus), pengennya sih punya beberapa ekor anakan inbreed agar bisa pilih-pilih tapi ternyata rejeki saya hanya 1 ekor saja, Alhamdulillah masih dikasih daripada tidak sama sekali. Masih beruntung  loh… karena setelah itu si Kasus mati karena usia. Paling tidak saya masih punya kesempatan memperoleh mayoritas gen-nya Kasus.
Bulan Maret ini Olan genap berumur 7 bulan, badan panjang, tinggi, seneng sih melihat kelengkapan yang dia punya. Mata, kepala, jengger, kaki, tulangan, dan bulu ekor yang ada pada Olan membuat saya betah di  kandang. Tapi sayang sayapnya bogang kanan kiri dan brutu-nya bengkok, tidak simetris dengan badannya. Tahu brutu ya? Itu tempat tumbuhnya bulu ekor. Gak apalah kondisinya begitu, maklum inbreed pasti punya kelemahan. Kondisi cukup sehat meski jarang dijemur, dan ternyata meski tidak diadu wajah Olan bisa kena korep. Gampang-gampang susah mau nyembuhin korep ini, asal bisa rutin pasti cepet sembuh dan itu yang jadi masalah untuk saya karena maktu senggang yang terbatas sedangkan banyak hal mesti saya lakukan. Untunglah sekarang korepnya tinggal sedikit, moga-moga segera sembuh. Dari segala kelemahan inbreed yang ada padanya semoga besok anakannya utuh, amiinnn….  Saat ini Olan masih menunggu bulunya tumbuh lengkap dan cukup dewasa untuk bisa dikawinkan, mungkin 2 atau 3 bulan lagi sudah berani dikawinkan, lebih baik lagi sih kalau umurnya sudah lebih dari setahun. 
    
Muka masih dihiasi korep




Ekor tidak simetris dengan badan

 
Bonus: jari kaki belakang kiri-kanan pecah-pecah